Visitors

Tampilkan postingan dengan label My Point Of View. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Point Of View. Tampilkan semua postingan

Sebenarnya saya kurang memahami seluk beluk obat-obatan karena saya sendiri kebetulan adalah 'orang' hukum, jadi saya coba sadur saja post kali ini dari okezone. Di bawah ini adalah pembahasan selengkapnya yang diberikan oleh Dr Widodo Judarwanto SpA dari Klinik Alergi Anak Rumah Sakit Bunda Jakarta, melalui surat elektroniknya kepada okezone, Jumat (13/2/2009).

Menurutnya, kontroversi yang ditakutkan tidak hanya dialami oleh pengguna puyer, tetapi juga pada pengguna obat sediaan lainnya. Ketakutan terhadap obat puyer juga bukan disebabkan karena obat itu sendiri, melainkan karena adanya kelemahan pengetahuan dokter atau ketrampilan apoteker dalam menyajikan puyer.

"Tampaknya kontroversi yang timbul dalam penggunaan puyer ternyata bila disimak dengan cermat tidak pada substansinya," ujar dia.Widodo merangkum beberapa hal mengenai kontroversi yang mencuat. Kontroversi itu telah disampaikan para klinisi dalam forum seminar maupun opini di media massa, sebagaimana berikut:
1. Menurunnya kestabilan obat, karena obat-obatan yang dicampur punya kemungkinan berinteraksi satu sama lain.


Sebenarnya bila dicermati interaksi obat tidak hanya pada pemberian puyer pemberian sediaqn kapsul atau sirup mempunyai risiko interaksi obat satu dengan yang lain. Dokter dibekali ilmu farmasi tentang masalah interaksi dan kestabilan obat. Kalaupun ada interaksi obat mungkin, dokter sudah memperhitungkan hal tersebut tidak terlalu berbahaya. Bila dokter tidak memahami farmakoterapi dari suatu jenis obat, sebaiknya dokter tidak menuliskan resep obat baik puyer maupun sirup.

2. Pemberian puyer berisiko terjadi pemberian polifarmasi.

Sebenarnya penggunaan polifarmasi bisa juga terjadi pada penggunaan obat kapsul dan sirup. Seorang dokter ada juga yang meresepkan berbagai macam botol sirup dalam satu kali pemberian. Bahkan seorang ibu sempat mengeluh ketakutan karena anaknya dalam sekali berobat diberikan sekaligus 6 botol sirup. Padahal dalam satu botol sirup itu juga kadang terdiri dari dua atau lebih kandungan obat.

Pengalaman lain beberapa penderita yang berobat di luar negeri khususnya Singapura, penderita memang tidak mendapatkan puyer tetapi membawa segepok obat sirup dan kapsul kalo dijumlah lebih dari 7 macam. Masalah pemberian polifarmasi ini juga tergantung knowledge dan pengalaman dokter.

3. Sulitnya mendeteksi obat mana yang menimbulkan efek samping.

Karena berbagai obat digerus jadi satu dan terjadi reaksi efek samping terhadap pasien, akan sulit untuk melacak obat mana yang menimbulkan reaksi. Hal ini juga tidak akan terjadi, karena dalam penulisan obat puyer pasien dapat meminta kopi resep dari apoteker atau apotek tempat pembelian obat. Di puskesmas memang menjadi masalah karena seringkali tidak disertai kopi resep, tetapi bila pasien meminta hal itu pasti akan diberikan oleh dokter yang memberikan di psukesmas. Adalah sesuatu yang tidak etis bila dokter tidak mau memberikan kopi resepnya.

4. Pembuatan puyer dengan cara digerus atau diblender, sehingga akan ada sisa obat yang menempel di alatnya.

Hal itu wajar terjadi, dalam ilmu meracik obat itu sudah diperhitungkan dengan menambah sekian persen untuk kemungkinan hal tersebut. Kalaupun ada kekurangan dan kelebihannya sebenarnya hanya dalam jumlah kecil yang tidak terlalu bermakna, kecuali pada obat tertentu. Dalam pemakaian obat sirup pun pasti wajar bila kelebihan atau kekurangan, seperti terjadi sisa sedikit sewaktu memberikan obat dalam sendok sirupnya atau kelebihan sedikit dalam menuang obat dalam sendok.

Bahkan seorang peneliti pernah melaporkan bahwa sekitar 20 persen obat paten ternyata sewaktu diteliti lebih cermat sering membulatkan jumlah dosis seperti yang tercantum dalam kemasannya, dengan kata lain tidak sesuai dengan kandungan yang ada, seperti pseudoefedrin yang seharusnya dikapsul 17 mg dibulatkan menjadi 20 mg.

5. Proses pembuatan obat itu harus steril, sedangkan pembuatan puyer tidak steril atau sering ada sisa dan bekas obat puyer sebelumnya.

Memang dalam penyajian dan penyediaan obat harus higienis dan bersih, dan itu sudah merupakan prosedur tetap yang harus dilakukan oleh semua apoteker. Bila apoteker tidak melakukan prosedur peyajian obat tidak baik dan benar, akan melanggar prosedur tetap yang sudah ada.

Meskipun demikian, dalam penyediaan obat oral tidak harus super-steril seperti penyediaan obat suntik. Obat oral mungkin relatif sama seperti penyajian makanan lain yang masuk ke mulut, beda dengan obat injeksi yang harus melalui pembuluh darah yang harus sangat steril.

6. Bisa jadi obatnya sudah rusak sebelum mencapai sasaran karena proses penggerusan.

Masalah tersebut sebenarnya masalah knowledge (pengetahuan) dan keterampilan dokter Hal itu juga tidak akan terjadi karena dokter sudah diberikan ilmu farmasi bahwa terdapat beberapa obat yang tidak boleh digerus. Kalaupun ada yang tidak boleh digerus tapi digerus, mungkin tidak membahayakan tetapi hanya membuat khasiat obat tidak optimal.

7. Dosis yang berlebihan karena dokter tidak mungkin hapal setiap merek obat. Jadi akan ada kemungkinan dokter meresepkan 2 merek obat yang berbeda, namun kandungan aktifnya sama.

Hal seperti ini juga sebenarnya masalah knowledge (pengetahuan) dan ketrampilan dokter. Setiap dokter tidak boleh menuliskan resep obat bila tidak hapal dosis dan merek obatnya. Kekawatiran inipun juga terjadi pada penulisan resep sediaan sirup.

8. Kesalahan dalam peracikan obat.

Bisa jadi tulisan dokter tidak terbaca oleh apoteker, sehingga bisa membuat salah peracikan. Hal inipun juga terjadi pada sediaan sirup. Penulisan dokter tidak jelas memang sering terjadi, dalam hal ini apoteker harus menanyakan lagi kepada dokter

Dia menambahkan, kontroversi ilmiah harus berdasarkan bukti dan fakta ilmiah ataupun paling tidak hasil rekomendasi dari institusi yang kredibel seperti WHO (World Health Organization), CDC (Centers for Disease Control), AAP American Academy of Pediatrics, IDI (Ikatan Dokter Indonesia) atau IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

"Sebenarnya masalah ini bukan konsumsi publik, tetapi seharusnya menjadi topik bahasan di kalangan intern dokter," pungkasnya.

Mengapa saya menampilkan berita ini di Blog saya? Karena setelah membaca dan memikirkan apa yang telah diungkapkan dokter di atas, saya setuju sekali dengan pendapat beliau, yang terpenting dalam proses pengobatan adalah luasnya pengetahuan dokter dan juga dibutuhkan pengalaman yang tentunya tidak sedikit, sehingga kemungkinan hal-hal yang berbahaya bagi pasien bisa diredam, salah satunya adalah kontroversi obat puyer ini.

Posted By Febrio Pahlevisalam Label:

Jujur, saya 'merinding' ketika pertama kali membaca berita perihal pencalonan diri Indonesia menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022. Bagaimana tidak, seketika saya langsung membayangkan stadion megah, pagelaran acara pembukaan yang meriah dan tentunya aksi 'seniman' kulit bundar kaliber dunia membuat saya serasa berada di Republik Mimpi, seseorang pernah mengatakan kepada saya, bahwa mimpi itu hanyalah sebuah awal dari keberhasilan. Walaupun banyak pihak yang pesimis dengan 'MAHAKARYA' PSSI ini, namun saya tetap mendukung niat baik PSSI ini, bayangkan saja jika kita berhasil menjadi tuan rumah ajang olahraga nomor wahid di dunia ini, akan banyak sekali keuntungan yang kan diraih oleh bangsa yang 'besar' ini, pergerakan ekonomi pasti dan tentunya akan menjadi sangat baik.

Tentu saja niat PSSI ini perlu di dukung oleh seluruh komponen bangsa ini, baik dari kalangan pemerintah dan masyarakat. Pemerintah melalui Mennegpora telah menyatakan dukungannya atas ide PSSI ini dan juga saya melalui post ini mendukung 'mimpi' yang coba untuk diraih oleh PSSI. Untuk meng-golkan niatnya ini, slogan GREEN WORLD CUP pun di usung oleh PSSI, berdasar kepada fakta bahwa Indonesia adalah negara dengan volume hutan yang sangat luas serta kekayaan hayati yang luar biasa, PSSI memasang slogan 'for the game, for the world, for our planet safety'. Ternyata niat baik PSSI ini disambut oleh 'mbahnya' organisasi bola, FIFA telah menyetujui pencalonan Indonesia menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022 dan harus bersaing dalam proses bidding dengan sejumlah negara. Tercatat Australia, Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Qatar, Inggris, Belanda-Belgia, Spanyol-Portugal dan Rusia juga berminat menjadi tuan rumah.

Mudah-mudahan 'mimpi' ini bisa jadi kenyataan, sehingga nantinya bisa membawa manfaat yang saya rasa pastinya akan sangat besar, khususnya di bidang ekonomi. Lihat saja Afrika Selatan, mereka benar-benar memulai dari 'awal' untuk mempersiapkan 'hajatan' akbar tersebut, kenapa Indonesia tidak? Lagipula, 'penggila' bola di Indonesia sangatlah banyak, fakta lainnya adalah kesuksesan Indonesia menggelar Piala Asia 2007 bisa dijadikan patokan, masih ingatkah anda sekalian bahwa final Piala Asia 2007 di gelar di Gelora Bung Karno? Dan masih banyak lagi alasan kenapa Impian PSSI akan mendapat sambutan positif dari warga masyarakat Indonesia.

Bos PSSI juga menyatakan bahwa "tidak pernah dalam sejarahnya penyelenggara Piala Dunia merugi" pada acara Talk Show di salah satu stasiun televisi swasta nasional. beliau juga menambahkan bahwa dana yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur pendukung tidaklah kecil, kisarannya adalah antara Rp 8 Trilyun hingga Rp 10 Trilyun, sungguh suatu pengorbanan yang besar namun belum sebanding dengan apa yang akan di raih jikalau 'mimpi' ini bisa terwujud.

Maka dari ituTerus dukung sepakbola Indonesia untuk lebih maju dan yang paling penting adalah DUKUNG PENCALONAN INDONESIA MENJADI TUAH RUMAH PIALA DUNIA 2022!!! Hilangkan semua perbedaan dan rasa pesimis dan bersatulah sebagai anak bangsa sehingga 'mimpi' ini benar-benar bisa terwujud!! AMIN AMIN AMIN!!

Buat anda yang tertarik maupun tidak tertarik, pro ataupun kontra dengan pencalonan Indonesia menjadi Tuan Rumah Piala Dunia 2022, anda bisa memperoleh informasi lengakap mengenai rencana PSSI ini dengan men-download proposal Road To World Cup 2022 yang dibuat oleh PSSI dengan klik di sini.
Posted By Febrio Pahlevisalam Label: ,

Ya, mungkin sebentar lagi judul diatas akan menjadi kenyataan, menyusul adanya keseriusan dari MUI untuk mengeluarkan fatwa haram merokok. Terus terang saya sangat menentang rencana tersebut, tidak terbayangkan jika fatwa haram merokok itu dikeluarkan, memang rokok sangat berbahaya bagi kesehatan, tak hanya bagi 'penghisap'-nya tetapi juga orang lain dan lingkungan di sekitarnya. Akan tetapi, saat ini saja sudah banyak perusahaan yang akan merumahkan karyawannya akibat dampak dari krisis global, apa jadinya jika fatwa haram merokok itu dikeluarkan, akan meledaklah jumlah pengangguran akibat efek domino yang ditimbulkan oleh fatwa haram tersebut. Belum lagi petani tembakau dan cengkih yang akan kehilangan pembeli dari hasil taninya tersebut yang tentunya akan menambah 'PR' bagi pemerintahan dalam mengatasi 'masalah' yang pastinya akan timbul akibat dari fatwa haram merokok.
Setidaknya MUI bisa lebih bijak dalam menyikapi hal ini, ulama dalam Islam adalah orang yang sangat dihormati, karena ulama seharusnya menjadi 'pengemong hati' bukan menciptakan 'neraka dunia' dengan fatwa haram merokoknya. Tidak hanya melihat dari segi agama (setahu saya dalam Islam, merokok hukumnya adalah Makruh) tetapi juga melihat dampak dari keluarnya fatwa tersebut, apakah fatwa tersebut banyak kebaikannya atau keburukannya?? Yaaa, saya hanya bisa berharap semoga MUI bisa lebih arif dan bijaksana karena memang begitulah seharusnya Ulama bersikap, semoga juga fatwa tersebut tidak jadi dikeluarkan.

Tolong MUI, jangan tambah lagi derita negara 'berkembang' ini!!!
Posted By Febrio Pahlevisalam Label:

Serangan gencar terhadap Palestina masih saja dilakukan oleh Israel, baik itu melalui udara, darat dan laut. Serangan mereka 'terlalu' membabi buta, tidak lagi mengenal warga sipil atau bukan, yang penting bom, bom dan bom dan hancurlah Hamas, tak perduli bayi, balita ataupun tua renta yang menjadi korbannya!!! Saya merasa sedih setiap hari selalu ada berita mengenai perang tersebut, ratusan orang tidak bersalah (mayoritas adalah Islam) terbunuh oleh aksi yang 'super keji'. Ribuan warga dunia menyerukan untuk penghentian agresi militer Israel tersebut, tetapi iblis yang berwujud negara Israel tetap tidak menggubrisnya, begitupun 'Bos' Amerika juga mempersulit langkah PBB dalam mengambil langkah-langkah positif bagi konflik tersebut dengan mem-veto hasil dari rapat DK PBB hanya dengan alasan bahwa draft perdamaian tersebut tidak menyebutkan Hamas di dalamnya, apakah kepentingan politik lebih penting bagi 'Bos' Amerika daripada Hak Hidup warga Palestina di Jalur Gaza??
Tidakkah kedua Iblis itu berpikir bahwa telah berapa banyak air mata yang ditumpahkan oleh ibu-ibu Palestina untuk anaknya yang gugur akibat bombardir dari Israel?? Berapa banyak lagi darah yang dibutuhkan untuk menghentikan agresi Israel?? Tidak ada yang tahu, tapi satu yang pasti saya tahu, Israel adalah sampah dan aib bagi dunia fana ini. Sabarlah Palestina, ada saatnya dimana engkau akan tersenyum bahagia dan bersuka cita karenanya.. May Allah bless Palestine, Amin..
Posted By Febrio Pahlevisalam Label:
Visit the Site
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger template by blog forum